2. Al Ghazali juga menambahkan, “Hendaknya sang anak dibiasakan berjalan kaki, bergerak, dan berolah raga pada sebagian waktu siang agar tidak menjadi anak yang pemalas.
3. Al Ghazali mengatakan, “Anak harus dibiasakan agar tidak meludah atau mengeluarkan ingus dimajelisnya, menguap di hadapan orang lain, membelakangi orang lain, bertumpang kaki,bertopang dagu, dan menyandarkan kepala ke lengan, karena beberapa sikap ini menunjukkan pelakunya sebagai orang pemalas. Anak harus diajari cara duduk yang baik dan tidak boleh banyak bicara. Perlu dijelaskan pula bahwa banyak bicara termasuk perbuatan tercela dan tidakpantas dilakukan. Laranglah anak membuat isyarat dengan kepala, baik membenarkan maupun mendustakan, agar tidak terbiasa melakukannya sejak kecil.
4. Al Ghazali mengatakan, “Anak hendaknya dicegah dari mengerjakan apa pun dengan cara sembunyi-sembunyi. Sebab, ketika anak menyembunyikannya berarti dia menyakiniperbuatan tersebut buruk dan tidak pantas dilakukan
5. Al Ghazali berkata, “Anak harus dijaga untuk tidak bergaul dengan teman-teman sebaya yang dibiasakan hidup senang, mewah, dan mengenakan pakaian-pakaian yang mahal. Karena, apabila anak dibiarkan seperti itu sejak usia dini, kebanyakan akan tumbuh menjadi anak yang berperangai buruk, pendusta, pendengki, suka mencuri, suka iseng, suka menipu, dan sukaberbuat seenaknya. Tiada cara lain untuk menghindarkan anak dari hal-hal tersebut kecualidengan memberikan pengajaran yang baik dan pendidikan yang menyeluruh.
6. Al Ghazali mengatakan, “Hendaknya seorang anak tidak dibiarkan berbangga diri di depan teman-teman sebayanya dengan harta yang dimiliki oleh orang tuanya atau dengan sesuatu darimakanannya, pakaiannya, atau buku dan penanya. Akan tetapi, hendaklah anak dibiasakan bersikap rendah diri, menghormati setiap orang yang bergaul dengannya, dan lemah lembut tutursapanya dengan mereka.
7. . Al Ghazali memberi nasihat, “Janganlah banyak mengarahkan anak dengan celaan karena yang bersangkutan akan menjadi terbiasa dengan celaan. Dengan celaan anak akan bertambah berani melakukan keburukan dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi. Hendaklah seorang pendidik selalu menjaga wibawa dalam berbicara dengan anak. Untuk itu, janganlah ia sering mencela, kecuali sesekali saja bila diperlukan. Hendaknya sang ibu mempertakuti anaknyadengan ayahnya serta membantu sang ayah mencegah anak dari melakukan keburukan.
sumber: metode pendidikan Rasulullah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar