Senin, 12 Agustus 2013

Bahaya Dibalik Jajanan Anak.

Asupan sehat adalah kunci memaksimalkan tumbuh kembang dan kecerdasan buah hati. Namun, tak jarang orang tua menemui kesulitan saat anak lebih memilih jajan diluar. Hal ini terjadi karena berbagai factor, antara lain pengaruh lingkungan bergaul (Ikut-ikut teman) atau rasa dan penampilan jajanan yang lebih menarik. Padahal kita sering mendengar dan temukan factor ketertarikan itu disebabkan oleh adanya zat adiktif didalam jajanan.

Zat adiktif adalah bahan yang ditambahkan dalam makanan atau minuman. Dapat berupa pengawet, pewarna, pembuat kenyal/renyah, pemanis, penambah rasa gurih atau tambahan lain yang bertujuan untuk meningkatkan nilai dari produk pangan. Zat adiktif yang berasal dari bahan alamiatau sesuai dengan standar pangan tentu saja aman,tetapi kebanyakan jajanan makanan menggunakan zat adiktif sintetis dengan kadar melebihi ambang batas normal. Ketua tim ahli Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rachmat Sentika mengatakan, berdasarkanyang dikutip dari laman KPAI, sekitar 68% jajanan anak disekolah memiliki kandungan bahan kimia berbahaya.


Dampak Zat Berbahaya

Mengizinkan anak mengonsumsi makanan berzat adiktif berbahaya sama saja dengan memasukan racun kedalam tubuh anak. Lalu apa saja zat berbahaya tersebut? Sebagai contoh pewarna tekstil rhodamin B dan pemanis buatan saccharin yang biasa terdapat pada saus, minuman, sirup, eskrim, dan permen memang memberikan tampilan yang menarik pada makanan. Bagi penjual makanan ini berpengaruh pada murahnya ongkos produksi, dan tentu berbanding terbalik dengan resiko bagi anak. Pada jangka tertentu zat adiktif berbahaya bisa mempengaruhi kesehatan anak sehingga berpotensi mengalami gangguan emosi konsentrasi dan hyperaktif, karies gigi, dan kanker pada jangka panjang.
Contoh lain adalah pengawet seperti formalin atau perasa seperti Mono Sodium Glutamate (MSG) yang sering ditemukan pada jajanan bakso, tahu, martabak, kripik atau makanan ringan, dan gorengan. Zat ini berpotensi berbahaya terhadap perkembangan saraf otak, penyakit radang tenggorokan, gangguan hati, ginjal dan kanker. Jika terakumulasi dalam jumlah besar dan waktu yang panjang.

Imbangi dengan asupan tepat

Efek zat berbahaya pada makanan sering kali tidak muncul segera setelah konsumsi, kecuali pada anak yang memiliki sensitifitas tinggi terhadap bahan kimia yang terkandung dalam makanan. Pada anak-anak seperti ini, konsumsi bahan-bahan tersebut akan langsung berpengaruh pada kesehatannya sehingga mengalami diare, mual, muntah, sakit kepala atau gangguan penceranaan. Dalam jangka panjang, setiap anak memiliki efek resiko yang berbeda sesuia proses tumbuh kembangnya. Hal ini baru akan terlihat setelah beberapa tahun kemudian dan bersifat permanent. Saat ini telah banyak dilaporkan sebagai efek akumulasi, misalnya penurunan system imun tubuh secara keseluruhan, reaksi alergi, penyakit degenerative seperti gagal ginjal,  gangguan jantung, diabetes, hingga resiko kanker organ. Demikian besar efek yang ditimbulkan dari konsumsi zat adiktif. Tentu kondisi ini menjadi lebih memprihatinkan jika menimpa anak-anak yang memiliki daya tahan tubuh dan system pencernaan yang belum sempurna. Zat adiktif diibaratkan seperti zat asing yang masuk kedalam tubuh sehingga tubuh akan merespon dengan meningkatkan system pertahanan untuk menghalau zat tersebut. Jika anak memiliki respon pertahanan tubuh yang baik termasuk pad saluran cernanya, maka zat adiktif akan dibuang bersamaan dengan ampas makanan atau melalui air seni.

K-Kids merupakan solusi terbaik untuk hal tersebut. Kandungannya dapat membantu anak membangun keseimbangan respon pertahanan tubuh. K-Kids dengan kandungan omega 3 nya dapat melindungi bagian-bagian sel saraf otak dari kerusakan jaringan karena zat adiktif. Pada konsumsi rutin 1 kapsul lunak per hari sampai usia 10 tahun, K-Kids akan melindungi anak dari efek jangka pendek maupun jangka panjang dari zat adiktif. Pertumbuhan dan perkembangan maksimal, kecerdasan otakpun akan lebih optimal.  

Sumber : Majalah GlobalNetwork K-Link edisi Agustus 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar